Dongeng : Pengertian, Fungsi, Ciri, Unsur, Jenis

A. PENGERTIAN DONGENG
Dongeng adalah salah satu karya sastra lama yang isinya tentang cerita luar biasa dan penuh khayalan (fiksi) yang dianggap tidak benar-benar terjadi oleh masyarakat secara umum. Dongeng merupakan karya sastra yang bersifat menghibur dan mengandung nilai pendidikan serta moral sehingga sangat cocok untuk diceritakan kepada anak-anak. Cerita dongeng merupakan bentuk cerita tradisional yang diceritakan secara turun-temurun. Walaupun penuh khayalan atau bersifat fiktif, tetapi terkadang dongeng terinspirasi dari kejadian di dunia nyata (yang bena-benar terjadi).
Pengertian Dongeng, Fungsi Dongeng, Ciri Dongeng, Unsur Dongeng, Jenis Dongeng
DONGENG

B. FUNGSI DONGENG
  • Mengajarkan nilai moral yang baik.
  • Menambah wawasan dan daya imajinasi anak.
  • Mengembangkan kreativitas anak.
  • Menghilangkan stress (Hiburan).
  • Mendekatkan anak dengan orangtuanya.

C. CIRI – CIRI DONGENG
  • Disampaikan secara lisan (dari mulut ke mulut) sebagai pengantar tidur, hiburan, atau sebagai sindiran secara turun temurun.
  • Mengandung nilai moral dan pendidikan.
  • Alur ceritanya sederhana.
  • Ceritanya singkat dan bergerak cepat.
  • Karakter tokoh tidak diuraikan secara rinci.
  • Jika berbentuk tulisan, biasanya dongeng ditulis dengan gaya penceritaan secara lisan.
  • Pendahuluan dan perkenalan cerita singkat serta langsung membahas topik atau inti cerita.

D. UNSUR DONGENG
1. Unsur Intrinsik Dongeng
a. Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari terbentuknya sebuah dongeng. Terdapat dua jenis tema yang ada dalam sebuah cerita, yaitu :
  • Tema yang tersurat, tema yang dapat ditemukan langsung dalam sebuah cerita, sifatnya jelas, mudah dikenali dan merupakan pusat dari cerita tersebut.
  • Tema yang tersirat, sering juga disebut dengan tema yang tidak langsung. Untuk mendapatkan tema ini seorang pembaca biasanya harus membaca sebagian besar dari cerita sampai dengan penyelesaiannya, kemudian baru dapat menyimpulkan tema cerita tersebut.

b. Latar
Latar atau setting merupakan ruang, waktu, suasana, dan alat pada peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra.

c. Alur
Alur atau plot merupakan jalan cerita dalam sebuah karya sastra. Alur disusun oleh rentetan peristiwa yang dialami pelaku mulai dari perkenalan, kemudian terjadinya konflik, munculnya puncak permasalah, hingga penyelesaian dalam sebuah cerita. Nah hubungan antara berbagai kejadian dalam cerita inilah yang disebut dengan alur cerita. Alur berhubungan erat dengan waktu dalam cerita tersebut. Secara umum terdapat 3 jenis alur cerita, yaitu :
  • Alur Maju, alur maju merupakan alur yang teratur dan sesuai dengan perjalanan waktu. Berawal dari masa lampau menuju masa sekarang (masa kini).
  • Alur Mundur, alur mundur merupakan alur cerita yang dimulai dari masa kini, kemudian menceritakan kejadian yang telah terjadi pada masa lampau.
  • Alur Campuran, merupakan alur campuran yang menggabungkan antara cerita pada masa kini dan masa lampau.

d. Tokoh
Tokoh merupakan pelaku dalam sebuah cerita. Tokoh adalah pelaku yang mengalami berbagai macam peristiwa, konflik, dan menjadi bagian utama dalam cerita. Dalam sebuah dongeng, biasanya ada satu tokoh utama protagonis (baik), satu tokoh utama antagonis (jahat) dan beberapa tokoh pembantu (figuran). Tokoh utama merupakan tokoh yang menjadi pusat perhatian dalam cerita tersebut, sedangkan tokoh pembantu (figuran) adalah tokoh yang mendampingi tokoh utama dan terlibat dalam sebagian peristiwa bersama dengan tokoh utama.

e. Penokohan (Watak/Karakter Tokoh)
Penokohan adalah watak, sifat, sikap, kondisi fisik dan karakter yang dimiliki oleh tokoh dalam sebuah cerita. Masing – masing tokoh memiliki penokohan yang berbeda-beda. Biasanya tokoh utama protagonis (baik) memiliki penokohan yang sangat berbeda dengan tokoh utama antagonis (jahat). Karena perbedaan inilah akan muncul sebuah masalah dalam cerita.

f. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Bebrapa jenis sudut pandang antara lain adalah :
f1. Sudut pandang orang pertama pelaku utama (sebagai tokoh utama) :
  • Tunggal (satu), biasanya menggunakan kata “aku” atau “saya”
  • Jamak (banyak), biasanya menggunakan kata “kami” atau “kita”

f2. Sudut pandang pertama pelaku sampingan  :
kata aku atau saya muncul bukan sebagai tokoh utama. Tokoh aku hadir hanya sebagai pelaku sampingan.

f3. Sudut pandang orang ketiga serbatahu
Penulis menggunakan kata “dia” untuk menggambarkan tokoh utama dan mengetahui segala hal tentang cerita tersebut dan segala hal yang menyangkut semua tokoh.

f4. Sudut pandang orang ketiga pengamat
Penulis juga menggunakan kata “dia” untuk tokoh tertentu. Berbeda dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu, pengarang hanya melukiskan apa yang dilihat, dialami, dipikirkan dan dirasakan oleh tokoh tersebut dan hanya terbatas tokoh tertentu saja.

g. Gaya Bahasa (Majas)
Gaya bahasa adalah cara penyampaian tulisan oleh penulis yang termasuk pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam istilah, keseluruhan ciri bahasa, dan cara khas penyampaian pikiran atau perasaannya. Gaya bahasa akan mempengaruhi kualitas sebuah karya tulis. Biasanya setiap penulis atau cerita memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda serta keunikannya tersendiri. Gaya bahasa inilah yang akan menimbulkan efek-efek tertentu yang membuat sebuah karya sastra terasa “lebih hidup” dan menarik. Karena itu gaya bahasa sangat penting dalam sebuah karya sastra

h. Amanat
Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan seorang penulis atau pengarang cerita kepada pembaca.

2. Unsur Ekstrinsik
a. Latar Belakang Masyarakat
Latar belakang masyarakat merupakan faktor-faktor dalam lingkungan masyarakat penulis yang mempengaruhi penulisan dongeng oleh penulis tersebut. Bebrapa contoh latar belakang masyarakat antara lain adalah :
  • Ideologi Negara
  • Kondisi Politik
  • Kondisi Sosial
  • Kondisi Ekonomi
  • Nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut

b. Latar Belakang Pengarang
Latar belakang pengarang merupakan faktor-faktor dalam pengarang yang mempengaruhi penulisan dongeng tersebut, beberapa faktor dari latar belakang pengarang adalah :
  • Riwayat hidup penulis
  • Kondisi psikologis
  • Aliran sastra penulis

E. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS DONGENG
Ada beberapa jenis dongeng yang dikenal, masing-masing memiliki ciri khasnya tersendiri. Walaupun demikian, terkadang sebuah dongeng bisa dimasukkan ke dalam lebih dari satu jenis tertentu. Nah berikut adalah Macam-Macam Jenis Dongeng.
Jenis - Jenis Dongeng
KLASIFIKASI MACAM - MACAM DONGENG
1. Mite (Mitos)
Mite (Mitos) adalah dongeng yang isi cerita atau tokohnya berkaitan dengan makhluk halus, setan, jin, atau dewa dewi. Walaupun terdengar sangat tidak masuk akal oleh masyarakat modern, nyatanya masih ada beberapa kalangan yang percaya terhadap mitos tersebut. Contohnya Dongeng Mitos Suster Ngesot.

2. Sage
Sage adalah jenis dongeng yang berhubungan dengan sejarah dari tokoh tertentu. Isinya menceritakan tentang keberanian, kepahlawanan, kebaikan, kesaktian atau keajaiban dari seseorang atau kaum tertentu. Biasanya sage dipercaya dengan kuat benar terjadi oleh beberapa kalangan atau anggota masyarakat. Dongeng Sage Sangkuriang.

3. Fabel
Fabel adalah jenis dongeng dimana binatang menjadi tokohnya dan mereka berperilaku seperti manusia (dapat berbicara, berpikir, memiliki perasaan, dll). Fabel sangat jauh dari kenyataan sehingga biasanya memang dianggap tidak pernah terjadi. Contohnya Dongeng Fabel si kancil.

4. Legenda
Legenda adalah sebuah dongeng yang dikenal luas oleh masyarakat (cerita rakyat) serta dianggap benar-benar terjadi. Biasanya berhubungan dengan tokoh sejarah, kejadian aneh, asal mula suatu daerah, atau hal lainnya yang sudah dibumbui dengan kejadian, kesaktian, atau keistimewaan tokohnya. Contohnya Legenda Malin Kundang.

5. Cerita Jenaka
Cerita Jenaka adalah jenis dongeng dengan cerita yang bersifat menghibur (memiliki unsur komedi).

6. Cerita Pelipur Lara
Cerita pelipur lara juga merupakan jenis dongeng yang bersifat menghibur (memiliki unsur komedi). Perbedaaanya dengan cerita jenaka adalah biasanya Cerita Pelipur Lara ini dibawan oleh dalang dengan menggunakan media wayang. Sebagian besar cerita pelipur lara menceritakan dengan petualangan dan perjuangan seorang tokoh yang akan berakhir bahagia.

7. Cerita Perumpamaan (Parabel)
Cerita perumpamaan atau parabel adalah dongeng yang tujuan utamanya adalah untuk mendidik sehingga mengandung banyak nilai moral dan pendidikan. Ciri khasnya adalah penyampaian nilai-nilai tersebut dengan menggunakan perbandingan atau perumpamaan.

8. Dongeng Biasa
Dongeng biasa adalah dongeng yang kisahnya ditokohi oleh manusia, isinya merupakan suka, duka dan impian seseorang. Contohnya dongeng bawang, merah dan bawang putih. 

Kalimat Majemuk : Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh

A. PENGERTIAN KALIMAT MAJEMUK
Kalimat Majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal yang dihubungkan oleh kata pengubung atau kata sambung. Karena terdiri dari lebih dari satu kalimat, maka kalimat ini biasanya mempunyai induk kalimat (yang mengandung inti informasi) dan anak kalimat (berfungsi sebagai penunjang), tetapi adapula yang kalimat penyusunnya berkedudukan sama atau sederajat sehingga tidak bisa dikatakan mana yang merupakan induk kalimat dan mana yang merupakan anak kalimat.
Pengertian Kalimat Majemuk, Ciri Kalimat Majemuk, Jenis Kalimat Majemuk, Contoh Kalimat Majemuk
KALIMAT MAJEMUK
B. CIRI – CIRI KALIMAT MAJEMUK
  • Ada perluasan atau penggabungan dari kalimat inti.
  • Perluasan atau penggabungan ini menghasilkan pola kalimat baru.
  • Mempunyai subjek atau predikat yang lebih dari satu.

C. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS KALIMAT MAJEMUK DAN CONTOHNYA
1. Kalimat Majemuk Setara
a. Pengertian Kalimat Majemuk Setara
Kalimat Majemuk Setara adalah kalimat majemuk yang unsur atau kalimat-kalimat atau klausa penyusunnya mempunyai hubungan sederajat. Artinya kalimat tunggal penyusun kalimat majemuk ini kedudukannya setara.

b. Ciri – Ciri Kalimat Majemuk Setara
  • Antar unsur penyusunnya memiliki hubungan koordinatif sehingga masing-masing kalimat penyusunnya dapat berdiri sendiri meskipun dipisahkan.
  • Masing-masing unsur penyusunnya memiliki kedudukan yang sama atau setara.
  • Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai biasanya adalah “dan”, “lalu”, “sedangkan”, “sebelum”, “ketika”, “setelah”, dll.

c. Macam – Macam Kalimat Majemuk Setara
c.1. Kalimat Majemuk Setara Sejalan
Kalimat majemuk setara sejalan merupakan kalimat majemuk yang penyusunnya sejalan serta tidak berlawanan makna satu dengan yang lain.
Contohnya :
Kalimat Penyusun 1 : Ayah sedang tidur
Kalimat Penyusun 2 : Ibu Sedang Memasak
Kalimat Majemuk : Ayah sedang tidur ketika ibu sedang memasak.

c.2. Kalimat Majemuk Setara Berlawanan
Kalimat Majemuk Setara Berlawanan merupakan kalimat majemuk dimana kalimat-kalimat penyusunnya menyatakan situasi yang bertolak belakang satu sama lain.
Contohnya :
Kalimat Penyusun 1 : Andi anak yang rajin
Kalimat Penyusun 2 : Adiknya adalah pemalas.
Kalimat Majemuk : Andi anak yang rajin, sedangkan adiknya adalah pemalas.

c.3. Kalimat Majemuk Setara Sebab Akibat
Sesuai dengan namanya, kalimat majemuk setara sebab akibat adalah jenis kalimat majemuk yang unsur-unsur atau kalimat penyusunnya menjelaskan tentang sebab dan akibat suatu hal.
Contohnya :
Kalimat Penyusun 1 : Kota Bogor diterjang banjir.
Kalimat Penyusun 2 : hujan terus menerus selama beberapa hari belakangan.
Kalimat Majemuk : Kota Bogor diterjang banjir akibat hujan yang terus menerus selama beberapa hari belakangan

2. Kalimat Majemuk Rapatan
a. Pengertian Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang terdiri dari beberapa kalimat tunggal yang digabungkan menjadi satu. Kalimat-kalimat tunggal tersebut digabungkan dengan hanya menyebutkan bagian yang tidak sama.

b. Ciri – Ciri Kalimat Majemuk Rapatan
  • Bisa dipisahkan menjadi dua kalimat tunggal atau lebih.
  • Penggabungan kalimat dilakukan dengan hanya menyebutkan bagian kalimat yang tidak sama.
  • Dipisahkan dengan tanda koma (,)
  • Dihubungkan dengan kata sambung (konjungsi) “dan”, “juga”, “serta”, dll.

c. Contoh Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat penyusun 1 : Ibu membeli sayur.
Kalimat penyusun 2 : Ibu membeli telur.
Kalimat penyusun 3 : Ibu membeli beras.
Kalimat penyusun 4 : Ibu membeli ikan.
Kalimat Majemuk : Ibu membeli sayur, telur, beras, dan ikan.

Kalimat Penyusun 1 : Aku mengunjungi Museum Fatahillah.
Kalimat Penyusun 2 : Aku mengunjungi Monumen Jakarta.
Kalimat Majemuk : Aku mengunjungi Museum Fatahillah dan Monumen Jakarta.

3. Kalimat Majemuk Bertingkat
a. Pengertian Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat Majemuk bertingkat adalah jenis kalimat majemuk yang unsur-unsur atau kalimat penyusunnya berkedudukan tidak setara/sederajat. Artinya salah satu kalimat tunggal penyusun kalimat majemuk bertingkat merupakan induk kalimat (yang mengandung inti informasi) sedangkan kalimat tunggal lainnya berkedudukan sebagai anak kalimat (berfungsi sebagai penunjang).

b.Ciri – Ciri Kalimat Majemuk Bertingkat
  • Unsur-unsurnya berkedudukan tidak sederajat atau tidak sama, artinya ada yang berkedudukan sebagai induk kalimat, adapula yang berkedudukan sebagai anak kalimat.
  • Salah satu unsur penyusunnya/anak kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena tidak memiliki arti jika dipisahkan dari kalimat majemuk tersebut.

c. Macam – Macam Jenis Kalimat Majemuk Bertingkat
Berdasarkan kepada kata sambung yang dipakai, maka kalimat majemuk dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
c.1. Kalimat Majemuk Hubungan Waktu
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : ketika, saat, waktu itu, sebelum, setelah, dll.
Contohnya :
Andi sedang maka ketika ibu pergi.
Kami akan pergi ke rumah dita setelah shalat magrib.

c.2. Kalimat Majemuk Hubungan Syarat
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : jika, seandainya, asalkan, apabila, andaikan, dll.
Contohnya :
Saya akan pergi ke pengajian asalkan kamu juga ikut.
Saya akan membantumu jika kamu juga berusaha.

c.3. Kalimat Majemuk Hubungan Tujuan
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : agar, supaya, biar, dll.
Contohnya :
Saya rajin belajar supaya bisa sukses.
Ibu membelikannya mainan agar ia tidak menangis.

c.4. Kalimat Majemuk Hubungan Sebab Akibat
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : akibat, karena, sebab, oleh karena, sehingga, makanya, dll.
Dia sangat kurus karena jarang makan.
Ia jatuh sakit akibat tidak diimunisasi.

c.5. Kalimat Majemuk Hubungan Perbandingan
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : ibarat, seperti, daripada, dengan, sebagaimana, lebih baik, dll.
Contohnya :
Aku lebih baik belajar daripada menonton televisi.
Ia sangat mirip dengan ibunya ketika muda.

c.6. Kalimat Majemuk Hubungan Cara
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : dengan
Contohnya :
Ia menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai tutor.
Andi pergi ke sekolah dengan sepeda itu.

c.7. Kalimat Mejemuk Bertentangan dengan Kenyataan.
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : padahal, kenyataannya, dll.
Dia sangat gemuk, padahal jarang makan.

c.8. Kalimat Majemuk Penjelasan
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : bahwa
Ibu mengatakan bahwa kemarin ayah menyuruh kami untuk membereskan kamar.
Nilai yang bagus menunjukkan bahwa siswa itu adalah anak yang pintar.

c.9. Kalimat Majemuk Konsensip
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : walaupun, meskipun, biarpun, dll.
Walaupun ia sedang sakit, abdi selalu semangat.
Ia tetap pergi meskipun sedang hujan.

c.10. Kalimat Majemuk Pengandaian
Kata Sambung (Konjungsi) yang dipakai : seolah-olah, seakan-akan, dll
Dia diam saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Ia bersikap seakan-akan orang yang paling benar.

4. Kalimat Majemuk Campuran
a. Pengertian Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat Majemuk campuran adalah gabungan dari kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk rapatan dengan kalimat majemuk bertingkat.

b. Ciri – Ciri
  • Terdiri dari beberapa kalimat tunggal.
  • Dihubungkan dengan lebih dari satu kata sambung (konjungsi).

c. Contoh Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat Majemuk Setara Penyusun : Ayah sudah pergi ketika aku sampai di rumah.
Kalimat Majemuk Bertingkat Penyusun : Ayah sudah pergi padahal aku tidak terlambat.
Kalimat Majemuk Campuran : Ayah sudah pergi ketika aku sampai di rumah, padahal aku tidak terlambat.

Kalimat Majemuk Rapatan Penyusun : Ibu membeli sayur, telur, dan nasi.
Kalimat Majemuk Bertingkat Penyusun : Ibu segera memasak setelah sampai di rumah.
Kalimat Majemuk Campuran : Ibu membeli sayur, telur, dan nasi kemudian segera memasak setelah sampai di rumah.

Kalimat Langsung dan Kalimat Tak Langsung

A. PENGERTIAN KALIMAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
1. Pengertian Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang diucapkan langsung atau dikutip langsung dari sebuah percakapan yang bentuk dan isi kalimatnya sama persis (tanpa diubah sedikitpun) seperti yang disampaikan. Ciri khas dari kalimat langsung adalah diawali dan diakhiri oleh tanda petik (“...”).

2. Pengertian Kalimat Tak Langsung
Kalimat Tidak Langsung adalah kalimat yang dikutip dari sebuah percakapan atau ucapan seseorang dan telah diubah bentuk kalimatnya namun tidak mengubah isinya. Artinya kalimat tak langsung ini mengandung informasi yang sama seperti yang disampaikan oleh sumbernya, tetapi struktur kalimatnya saja yang berbeda.
Kalimat Langsung, Kalimat Tidak Langsung
KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG

B. CIRI – CIRI KALIMAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
1. Ciri – Ciri dan Aturan Penulisan Kalimat Langsung
  • Kata yang dikutip atau diucapkan diawali dan diakhiri oleh tanda petik dua (“....”)
  • Intonasi bagian kutipan memiliki nada yang lebih tinggi dibandingkan bagian penunjangnya.
  • Huruf pertama setelah tanda petik merupakan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca sesuai jenis kalimatnya (misalnya kalimat berita, maka diakhiri dengan tanda titik, atau jika kalimat tanya, maka diakhir dengan tanda tanya).
  • Tanda petik penutup ditulis setelah tanda baca yang mengakhiri kalimat.
  • Bagian pengiring atau penunjangnya langsung dipisah dengan tanda koma dari bagian kutipan atau ucapan.
  • Kalimat langsung yang berupa dialog berurutan (saling berbalas), maka wajib menggunakan tanda baca titik dua di depan kalimat langsungnya.
  • Jika terdapat dua kalimat petikan, huruf awal pada kalimat petikan pertama menggunakan huruf kapital, sedangkan huruf awal pada petikan kedua menggunakan huruf kecil kecuali nama orang atau kata sapaan.

2. Ciri – Ciri Kalimat Tak Langsung
  • Tidak menggunakan tanda petik.
  • Intonasi membaca datar, tidak jauh berbeda antara kalimat pengiring dengan isi kalimat yang dikutip.
  • Terdapat perubahan kata ganti orang karena perubahan dalam penyampaian kalimat langsung menjadi kalimat tak langsung. Perubahan-perubahan tersebut antara lain.
  1. Perubahan kata ganti orang pertama menjadi kata ganti orang ke tiga, contohnya “saya” atau “aku”yang berubah menjadi “dia” atau “ia”.
  2. Perubahan kata ganti orang kedua menjadi kata ganti orang pertama, contohnya “kamu” menjadi “saya”
  3. Perubahan kata ganti kedua jamak menjadi kami atau mereka sesuai dengan konteksnya. “kalian” menjadi “kami”, atau “kami”menjadi “mereka” atau “kita” menjadi “kami”
  4. Semua kalimat tak langsung berbentuk kalimat berita.
  5. Biasanya terdapat kata “bahwa”, “sebab”, “untuk”, “supaya”, “tentang” dan kata tertentu lain setelah kalimat pengiring.

C. CONTOH KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG
1. Contoh Kalimat Langsung
Ibu bertanya, Apakah kamu sudah makan?”
Pak Endi berkata, “Besok akan diadakan ujian.”
“Kami sudah menetapkan beliau sebagai tersangka,” kata polisi.
Ayah menyuruh, “Bersihkan kamarmu sekarang!”
“Saya sangat bersyukur,” katanya, “mudah-mudahan keluarga kita selalu seperti ini.”

2. Contoh Kalimat Tak Langsung
Ibu menanyakan kepada saya apakah saya sudah makan.
Pak Endi mengatakan bahwa besok akan diadakan ujian.
Polisi mengatakan bahwa beliau sudah ditetapkan oleh tersangka oleh mereka.
Ayah menyuruhku untuk segera membersihkan kamarku.
Ia sangat bersyukur dan berharap keluarganya akan selalu seperti ini.

Bahasa Sanskerta : Pengertian, Sejarah, Ciri

A. PENGERTIAN BAHASA SANSEKERTA
Bahasa Sansekerta adalah bahasa Indo-Eropa tertua yang terkenal dan memiliki sejarah panjang. Kata sansekerta sendiri dapat diartikan sebagai “sempurna”. Bahasa sanskerta ini juga termasuk sebagai bahasa klasik bangsa india (menjadi satu dari 23 bahasa resmi India), juga demikian di beberapa negara lain seperti Nepal. Jika dinilai dari segi sejarahnya, maka dapat dikatakanbahwa posisi bahasa sanskerta di Asia mirip dengan bahasa Latin dan Yunani dahulunya secara luas digunakan oleh masyarakat di Eropa. Pada zaman sekarang, bahsa sanskerta juga masih dipakai dalam upacara Hindu dan oleh beberapa lembaga tradisional di India.
Pengertian Bahasa Sanskerta, Sejarah Bahasa Sanskerta, Ciri Bahasa Sanskerta
BAHASA SANSKERTA
B. SEJARAH BAHASA SANSEKERTA
Secara bahasa, kata “samskrta” berarti “berbudaya” atau “tinggi” atau “sempurna”, oleh karena itu sering digunakan untuk keperluan agama, upacara adat, atau keperluan ilmiah. Karena itu pula bahasa ini disebut juga dengan kebalikan dari bahasa “prakerta” atau “bahasa rakyat” yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa ini telah diguanakn sejak tahun 1500 Sebelum Masehi. Tetapi diduga kuat umur bahasa ini lebih tua, namun mengingat perkembangan tulisan yang sulit ditemukan jejaknya maka tidak bisa dipastikan usia pasti dari bahasa kuno ini. Sejarah asal usul dari bahasa sanskerta ini adalah dari dialek lisan yang kemudian diorganisasi dan dikodifikasi serta dimodikasi menjadi bentuk yang lebih modern sekitar tahun 500 Sebelum Masehi. Sastra dari bahasa sanskert mencakup puisi yang kaya akan tradisi, drama, teks ilmiah, filsafat, dan agamis.

Pada mulanya, kemunculan bahasa ini tidaklah dipandang sebagai suatu bahasa yang berbeda dari bahasa lainnya. Tetapi karena bentuknya yang lebih halus dan budaya bicara yang tinggi, maka bahasa ini dianggap “spesial” dan bagi orang mempunyai pengetahuan bahasa sanskerta akan dianggap memiliki kasta tinggi atau terpelajar.

Beberapa ilmuan mencoba melakukan penelitian dan mempelajari bahasa sanskerta, salah satunya adalah Sir William Jones, beliau berkata :
“Bahasan Sanskerta memiliki struktur yang menakjubkan, lebih sempurna dari bahasa Yunani, lebih luas dari bahasa Latin dan lebih berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan kuat dengan keduanya baik dalam bentuk dasar kata kerjanya atau tata bahasa, tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan. Karena ikatan antara bahasa sanskerta, bahasa yunani, dan bahasa latin yang sangat erat ini, maka wajar jika ahli bahasa beranggapan bahwa mereka muncul dari sumber yang sama (kemungkinan sumber tersebut sudah tidak ada).”

C. CIRI – CIRI DAN KARAKTERISTIK BAHASA SANSKERTA
1. Memiliki 8 kasus (Tata Bahasa)
Kasus bahasa sanskerta berjumlah 8, sedangkan bahasa latin yang masih dianggap “serumpun” hanya memiliki 5 kasus(tata bahasa). Kasus-kasus tersebut adalah :
  • Kasus (tata bahasa) Nominatif (benda)
  • Kasus (tata bahasa) Vokatif (Seruan, Ajakan, Panggilan)
  • Kasus (tata bahasa) Akusatif (objek dari kata kerja)
  • Kasus (tata bahasa) Instrumentalis (alat)
  • Kasus (tata bahasa) Datif (seperti “kepada” atau “untuk)
  • Kasus (tata bahasa) Ablatif (sesuatu yang berasal atau bergerak karena objek)
  • Kasus (tata bahasa) Genetif (Kepunyaan)
  • Kasus (tata bahasa) Lokatif (menunjukkan tempat, hampir sama dengan “di”)

2. Terdapat 3 Jenis Kelamin
  • Maskulin (laki-laki/pria)
  • Feminim (Perempuan/Wanita)
  • Netral

3. Terdapat 3 modus jumlah
  • Singular (satu)
  • Dualis (Dua)
  • Jamak (Banyak atau lebih dari dua)

4. Skema dasar untuk kata benda dan kata sifat
SKEMA DASAR UNTUK KATA BENDA DAN KATA SIFAT

5. Terdapat Hukum Sandhi
Hukum sandhi adalah sebuah fenomena dimana ada dua bunyi berbeda yang berdekatan dan bisa berasimilasi (perubahan bunyi dengan bunyi lain).

C. CONTOH BAHASA SANSKERTA DALAM BEBERAPA AKSARA

Kalimat Berita : Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh

A. PENGERTIAN KALIMAT BERITA
Kalimat berita adalah salah satu jenis kalimat yang isinya berupa pemaparan tentang suatu informasi atau peristiwa. Kalimat berita berfungsi untuk memberikan informasi kepada pembaca atau pendengar tentang pengumuman atau isi kalimat yang akan disampaikan.
Pengertian Kalimat Berita, Ciri Kalimat Berita, Jenis Kalimat Berita, Contoh Kalimat Berita
KALIMAT BERITA
B. CIRI – CIRI KALIMAT BERITA
Kalimat berita memiliki ciri-ciri khusus yang membuatnya berbeda dengan kalimat lain, beberapa ciri tersebut antara lain adalah :
  • Selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.
  • Jika dinyatakan dalam bentuk lisan, maka intonasi (tinggi rendahnya nada) dari kalimat berita bersifat datar atau netral.
  • Isinya berupa pemberitahuan tentang informasi tertentu.
  • Kalimat berita disertai dengan fakta.

C. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS KALIMAT BERITA DAN CONTOHNYA
1. Jenis Kalimat Berita Berdasarkan Isinya
a. Kalimat Berita Positif
Kalimat berita positif adalah kalimat berita yang isinya berupa pemberitahuan atas suatu informasi, bukan pengingkaran atas informasi tertentu. Kalimat berita positif tidak memiliki kata kata pengingkaran seperti “tidak” atau “bukan” pada inti kalimatnya.
Contoh kalimat berita positif :
  • Andi adalah pemenang lomba membaca puisi tingkat provinsi.
  • Kota Bogor diterjang banjir tadi sore.
  • Besok akan diadakan ujian kimia.
  • Hujan yang terus menerus membuat warga resah.
  • Keluarga rani memutuskan untuk berlibur ke Korea.

b. Kalimat Berita Negatif
Kalimat Berita Negatif adalah kalimat berita yang isinya merupakan pengingkaran atau penyangkalan atas suatu informasi tertentu. Kalimat berita negatif merupakan kebalikan dari kalimat berita positif. Ciri khas kalimat berita negatif adalah adanya kata pengingkaran seperti “tidak” atau “bukan”.
Contohnya :
  • Andi tidak datang ke sekolah tadi siang.
  • Wanita yang tadi bersama andi bukanlah ibunya.
  • KPK mengatakan bahwa Rudi tidak terlibat dalam kasus tersebut.
  • Orang yang suaranya merdu itu bukan Rina.
  • Ibu guru tidak bisa mengumumkan nilai ujian hari ini.

2. Jenis Kalimat Berita Berdasarkan Penyampaiannya
a. Kalimat Berita Langsung
Kalimat Berita Langsung adalah kalimat berita yang memuat informasi atau peristiwa yang berasal langsung dari ujaran seseorang yang kembali disampaikan persis seperti aslinya. Ciri dari Kalimat Berita Langsung adalah intonasi dari kalimat kutipan yang lebih tinggi daripada kalimat pengiringnya.
Contohnya :
  • Ibu berkata, “Kamu boleh keluar asalkan pulangnya sebelum magrib”.
  • “Kalian harus menjadi orang yang berguna,” kata pak guru.
  • Evakuasi korban telah berhasil dilakukan,” ujar polisi pada konferensi pers.

b. Kalimat Berita Tidak Langsung
Kalimat berita tak langsung adalah kalimat berita yang disampaikan oleh orang lain namun tidak sama persis seperti penutur (pembicara) aslinya. Artinya informasi dari berita tidak langsung ini disampaikan kembali dengan bahasa yang berbeda, namun isinya tetap sama. Ciri khas dari kalimat berita tak langsung adalah intonasi yang menurun di akhir kalimat.
Contohnya :
  • Menteri Perikanan memerintahkan anak buahnya untuk menenggelamkan kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia.
  • Ayah menyuruh kami untuk membersihkan rumah besok.
  • Presideng perusahaan ini mengatakan bahwa mereka akan mempublikasikan produk baru mereka secepat mungkit. 

Kalimat Aktif dan Pasif : Pengertian, Contoh, Ciri, Jenis

A. PENGERTIAN KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF
1. Pengertian Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat dimana subjeknya secara aktif melakukan sesuatu berupa predikat kepada objeknya.
Contohnya :
Andi membeli permen.

2. Pengertian Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat dimana subjeknya dikenai suatu tindakan berupa predikat oleh objeknya.
Contohnya :
Permen dibeli oleh Andi.

Jadi kalimat aktif dan kalimat pasif saling bertolak belakang satu sama lain. Tetapi umumnya kalimat aktif dapat dipasifkan, demikianpula sebaliknya.
Pengertian, Contoh, Ciri, Jenis Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF
B. CIRI – CIRI KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF
1. Ciri – Ciri Kalimat Aktif
a. Subjek dalam kalimat aktif merupakan pelaku suatu tindakan.
Contohnya :
Saya menjual buku. (Saya=Subjek, Menjual=Tindakan)
Rani meminjam pulpen. (Rani=Subjek, meminjam=tindakan)

b. Biasanya predikat dalam kalimat aktif berimbuhan Me- atau ber-.
Contohnya :
Ibu memasak nasi.
Andi bermain bola.

c. Pola Kalimatnya adalah Subjek-Predikat-Objek-Keterangan (SPOK atau SPO) atau ada juga kalimat yang tidak memerlukan objek yang berpola Subjek-Predikat-Keterangan.
Contohnya :
Adik membaca buku di kamar. (Adik=Subjek, Membaca=Predikat, Buku=Objek)
Ibu memasak di dapur. (Ibu=Subjek, Memasak=Predikat, di dapur=Keterangan)

2. Ciri – Ciri Kalimat Pasif
a. Objek pada kalimat pasif merupakan subjek pada kalimat aktif.
Contohnya :
Nasi dimasak ibu.
Bola dimainkan Andi.

b. Biasanya unsur predikat pada kalimat pasif berimbuhan di-, ter-, di-kan, atau ter-kan.
Contohnya :  
Bunga disiram oleh adik.
Nasi terinjak oleh Hadi.

c. Seringnya ditandai oleh kata oleh, tetapi jikalaupun kata oleh ini dihilangkan, tidak akan terjadi perubahan makna pada kalimat pasif.
Contohnya :
Sapu dibawa oleh Ahmad.
Arti contoh di atas masih sama jika kata “oleh” dihilangkan menjadi :
Sapu dibawa Ahmad

C. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF DAN CONTOHNYA
1. Klasifikasi Macam – Macam Kalimat Aktif
a. Kalimat Aktif Transiftif
Kalimat aktif Transitif merupakan kalimat aktif yang membutuhkan objek dalam kalimatnya sehingga berpola S-P-O (Subjek – Predikat – Objek) atau S-P-O-K/Pel (Subjek – Predikat – Objek – Keterangan atau pelengkap)
Contohnya :
Ilham menderngarkan radio.
Adik menonton televisi di kamarnya.

Kalimat transitif ini dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a.1. Kalimat Aktif Ekatransitif
Kalimat Aktif Ekatransitif merupakan kalimat aktif yang dilengkapi dengan objek tetapi tidak mempunyai pelengkap atau keterangan. Jadi dapat dikatakan kalau kalimat ekatransitif ini merupakan bagian atau kelompok dari kalimat transitif yang tidak berpelengkap atau keterangan. Pola dari kalimat ini adalah S-P-O.
Contohnya :
Icha membuang sampah.
Razi menjemur pakaian.

a.2. Kalimat Aktif Dwitransitif
Kalimat Aktif Ekatransitif merupakan kalimat aktif yang dilengkapi dengan objek dan dilengkapi dengan pelengkap atau keterangan. Jadi dapat dikatakan kalau kalimat Dwitransitif ini merupakan bagian atau kelompok dari kalimat transitif yang mempunyai objek dan pelengkap sekaligus.
Rizki menyusun buku dengan hati-hati.
Ardi membeli baju di pasar malam.

b. Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat Aktif Intransitif merupakan kalimat aktif yang tidak dilengkapi dengan Objek kalimat, melainkan diikuti oleh kata keterangan atau pelengkap. Kalimat ini berpola S-P-K/Pel (Subjek – Predikat – Keterangan atau Pelengkap).
Contohnya :
Andi berlari sepanjang hari.
Adik menangis di kamarnya

2. Klasifikasi Macam – Macam Kalimat Pasif
a. Berdasarkan objeknya
a.1. Kalimat Pasif Transitif  
Kalimat Pasif Transitif merupakan kalimat pasif yang dilengkapi dengan objek kalimat, baik objek tersebut dilengkapi dengan keterangan/pelengkap ataupun tidak.
Contohnya :
Nasi dimasak ibu.
Mobil diperbaiki ayah kemarin.

a.2. Klaimat Pasif Intransitif
Kalimat Pasif Transitif merupakan kalimat pasif yang tidak dilengkapi dengan objek, melainkan hanya dilengkapi oleh keterangan atau pelengkap.
Contohnya :
Pasar itu terbakar tadi siang.
Burung dipelihara di dalam kandang.

b. Berdasarkan Predikatnya
b.1. Kalimat Pasif Tindakan
Kalimat Pasif Tindakan merupakan kalimat pasif yang predikatnya berupa tindakan. Biasanya predikat tersebut berimbuhan di atau di-kan.
Contohnya
Televisi dimatikan oleh ayah.
Buku itu dipinjam Andi.

b.2. Kalimat Pasif Keadaan
Kalimat pasif keadaan merupakan kalimat pasif yang predikatnya berupa keadaan. Biasanya predikat kalimat pasif ini berimbuhan ke-an.
Contohnya :
Rumahnya kemalingan tadi malam.

Kucing itu ketakukan saat ditinggal sendiri.