Vitamin : Pengertian, Fungsi, Macam Jenis

A. PENGERTIAN VITAMIN
Vitamin merupakan suatu zat senyawa yang kompleks yang sangat berguna dalam proses metabolisme tubuh kita. Vitamin juga membantu proses pengaturan kegiatan tubuh. Tanpa vitamin, maka makhluk hidup tidak dapat melakukan aktivitas dan juga kemungkinan untuk terserang penyakit akan sangat tinggi.

Vitamin tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh kita, akan tetapi zat ini sangat diperlukan oleh tubuh. Vitamin berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Memang tubuh tidak memerlukan vitamin dalam jumlah yang besar, namun vitamin dibutuhkan dalam jumlah yang kecil secara terus menerus. Secara umum, vitamin berperan dalam pertumbuhan sel, mengatur dan memperbaiki fungsi tubuh, dan mengatur penggunaan makanan dan energi bagi tubuh.
Pengertian Vitamin, Fungsi Vitamin, Jenis Vitamin
PENGERTIAN, FUNGSI, DAN MACAM JANEIS VITAMIN
B. SEJARAH PENEMUAN VITAMIN
Terdapat beberapa era yang bisa dikemukakan dalam hal sejarah penemuan vitamin dari masa awal sampai dengan sekarang. Era tersebut adalah :
1. Era Penyembuhan Empiris
Masa ini dimulai sejak tahun 1500-1570 sebelum Masehi. Pada periode tahun tersebut, banyak ahli-ahli pengobatan dari Negara-negara yang sudah berperadaban seperti Mesir, Cina, Jepang, Yunani, Roma, Persia, dan Arab yang telah berusaha menyembuhkan penyakit rabunpada malam hari dengan menggunakan ekstrak hati (diduga vitamin). Belakangan penyakit ini diketahui disebabkan karena adanya kekurangan (defisiensi) vitamin A pada tubuh.

Walaupun pada masa ini para ahli sudah menggunakan ektrak hati yang diduga vitamin untuk menyembuhkan penyakit, akan tetapi mereka belum dapat mengindentifikasi jenis vitamin yang digunakan itu. Oleh karena itulah era ini disebut dengan penyembuhan empiris, karena menyembuhkan suatu penyakit berdasarkan pengalaman ahli penyakit.

2. Era Karakterisasi Defisiensi
Era ini dimulai sejak tahun 1890-an yang diprakarsai oleh dua ahli yaitu Lunin dan Christian Eijkman yang meneliti tentang penyakit defisiensi pada hewan. Penemuan-penemuan mereka mulai merangsang dunia medis untuk turut mengadakan penelitian-penelitian tentang penyakit defisiensi. Selang beberapa tahun kemudian, Sir Frederick G.Hopkins melakukan penelitian pada penyakit beri-beri. Ia menemukan bahwasanya penyakit beri-beri muncul karena adanya kekurangan senyawa terentu dari hormone pertumbuhan (Growth Hormone).

Pada tahun 1911, Dr. Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu senyawa yang menurut penelitian dapat mencegah peradangan saraf (neuritis) untuk pertama kalinya. Selain itu, ia juga berhaisl menemukan senyawa aktif yang diyakini memiliki zat anti-beri pada tahun berikutnya. Pada saat itulah, Dr.Funk mempublikasikan sneyawa aktif yang ia temukan tersebut dengan nama vitamin (vital dan amines).

3. Era Keemasan
Disebut era keemasan karena pada masa ini banyak ditemukan penemuan-penemuan besar yang berkaitan dengan vitamin, seperti penemuan berbagai jenis vitamin baru, metode penapisan yang diperbaharui, penggambaran struktur lengkap vitamin, dan juga sintesis vitamin B12. Selain itu, banyak peneliti yang mendapatkan hadiah nobel atas karyanya seperti Sir Walter N. Hawort yang mendapatkan nobel karena menemukan vitamin C pada tahun 1937. Selanjutnya ada Carl Peter Henrick Dam pada tahun 1943 berhasil meraih nobel atas keberhasilannya menemukan vitamin K. terakhir, Fritzz A.Litman juga memenangkan nobel atas penemuan koenzim vitamin A serta perannya di dalam metabolism tubuh.

4. Era Kaakterisasi Fungsi dan Produksi
Pada era ini ditandai dengan banyaknya penemuan mengenai fungsi biokimia daripada vitamin di dalam tubuh, keterkaitannya dengan makanan, dan juga produksi massal vitamin untuk pertama kalinya. Pada tahun 1930, peneliti menemukan bahwa vitamin B2 merupakan bagian dari enzim kuning yang diperoleh melalui ekstrak ragi.

Produksi massalh vitamin pertam akali dilakukan oleh Tadeus Reichstein pada tahun 1933 yang memproduksi vitamin C sehingga dapat diperjual belikan kepada masyarakat. Vitamin C ini banyak dipakai sebagai suplemen makanan, penelitian, dan gizi tambahan bagi hewan ternak.

5. Era Penemuan Nilai Kesehatan Vitamin
Masa ini dimulai ketika seorang ahli bernama Rudolf Altschul menemukan bahwa vitamin B3 dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Pada era ini banyak ditemukan nilai-nilai kesehatan dari maisng-masing jenis vitamin serta penemuan baru mengenai fungsi biokimia vitamin dalam tubuh.

B. FUNGSI VITAMIN
  • Mengatur metabolisme tubuh
  • Menguatkan gigi dan tulang
  • Memperkuat sistem kekebalan tubuh
  • Mempercepat penyembuhan luka
  • Merangsang pertumbuhan dan perkembangan tubuh
  • Sebagai katalisator dalam reaksi biokimia tubuh
  • Memperlambat proses penuaan karena terkandung antioksidan
D. JENIS – JENIS VITAMIN
Jenis-jenis vitamin dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan sifatnya yang larut dalam air atau tidak. Vitamin itu ialah :
1. Vitamin Larut Air
a. Vitamin B
Vitamin B berperan dalam proses metabolisme di dalam tubuh terutamaa saat pelepasan energi tubuh. Vitamin B berfungsi sebagai koenzim yang dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Vitamin B juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. Vitamin B dapat ditemukan dalam gandum, ikan, sayur-sayuran hijau. 

Vitamin B terbagi lagi menjadi :
(1) Vitamin B1
Vitamin B1 juga dikenal dengan sebutan Tiamin memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan kulit dan turut membantu mengubah karbohidrat menjadi energi yang dipelukan untuk aktivitas sehari-hari. Selain itu, vitamin ini juga membantu metabolisme protein dan lemak.
Tubuh akan mengalamai berbagai gangguan seperti kulit menjadi kering dan bersisik, mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, gangguan saraf, dan gangguan jantung akibat kekurangan vitamin B1. Oleh Karen itu, kita harus mengkonsumsi vitamin ini yang dapat ditemukan di dalam gandum, nasi, daging, telur, dan kacang-kacangan.

(2) Vitamin B2
Vitamin B2 atau dikenal dengan riboflavin memiliki peranan dalam regenerasi energi bagi tubuh melalui proses respirasi (pernapasan). Vitamin ini juga berperan dalam proses pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan juga glikogen. Vitamin B2 dapat terkandung dalam sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, dan susu. Kekurangan vitamin B2 dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, mulut kering, bersisik, dan sariawan atau bibir pecah-pecah.

(3) Vitamin B3
Vitamin B3 atau niasin berperan dalam proses metabolisme protein, lemak, dan juga karbohidrat menjadi energi tubuh. Vitamin ini dapat menjaga kadar tekanan darah, kadar gula darah, penyembuhan vertigo dan migraine, serta menyembuhkan dari racun-racun tetentu. Vitamin ini banyak terkandung di dalam bahan makanan hewani seperti hati, ginjal, daging unggas, dan lain sebagainya. Kekurangan vitamin B3 dapat menyebabkan kejang, keram otot, muntah-muntah, gangguan pencernaan, dan mual.

(4) Niasin (Asam Nikotinat atau Antipelagra)
Terdapat beberapa fungsi yang dapat diberikan oleh niasin, antara lain sebagai agen pertumbuhan dan perkembangbiakan sel, perombakan karbohidrat, lemak, dan juga protein, dapat mencegah penyakit pellagra, memelihara pencernaan, serta berperan sebagai koenzim yang diperlukan oleh semua proses yang dialami oleh makhluk hidup.
Disebut juga dengan antipelagra dikarenakan apabila seseorang kekurangan vitamin ini, maka akan mengakibatkan orang tersebut terjangkit penyakit pellagra, dengan gejala dermatitis (kulit memerah, mengelupas, pecah-pecah, anemia, dan eksim simetris), diare, dan dimensia (kehilangan mental seusianya, pelupa, letih, dan suka melamun)

(5) Vitamin B5
Vitamin B5 atau Asam Pantotenat juga berperan di dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin ini juga berperan besar dalam menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dengan otak serta memproduksi senyawa seperti asam lemak, sterol, dan hormon-hormon tubuh. Vitamin B5 dapat ditemukan di dalam daging hewani, susu, sayuran hijau, dan kacang hijau.

(6) Asam Pantotenat
Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim A yang berperan dalam proses pembentukan lemak dan protein. Selain itu, asam pantotenat juga berperan sebagai penjaga kadar gula dalam darah. Vitamin ini banyak terdapat di sayuran hijau, ragi, hati, daging, dan kuning telur.

(7) Vitamin B6
Vitamin B6 atau piridoksin juga berperan dalam proses metabolisme tubuh terutama dalam proses pemecahan lemak seperti spingolipid dan fosfolipid. Vitamin ini juga berperan dlaam pembentukan antibodi tubuh dalam menyerang zat asing. Vitamin ini banyak ditemukan di dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan.

(8) Vitamin B11
Vitamin B11 atau disebut juga dengan asam folat sangat berperan dalam proses pembentukan sel darah merah. Selain itu, vitamin B11 juga berfungsi sebagai antianemia pernisiosa, membentuk asam nukleat (DNA dan RNA), dan metabolisme kelompok metil.
Seseorang yang mengalami kekurangan vitamin B11 akan menyebabkan anemia pernisiosa, peradangan pada lidah, diare, lesu, penurunan berat badan, dan kegagalan eritroblastik berubah menjadi eritrosit. Vitamin ini banyak terdapat di dalam hati, sayuran, ragi, biji gandum, daging sapi, pisang, lemon, dan kacang polong.

(9) Vitamin B12
Vitamin B12 atau sianokobalamin berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukan molekul DNA dan RNA, seta pembentukan platelet darah. Vitamin ini hanya ditemukan pada hewan. Oleh karena itu, orang yang vegetarian sering mengalami masalah terkait vitamin ini.

b. Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat memiliki peranan dalam menangkal radikal bebas di dalam tubuh karena mengandung senyawa antioksidan. Vitamin ini juga berperan sebagai pembentuk kolagen yang merupakan penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan tubuh lainnya. Karena vitamin ini mampu menangkal radikal bebas, maka vitamin ini mampu menurunkan laju mutasi sel dalam tubuh sehingga dapat menurunkan pertumbuhan penyakit degeneratif seperti kanker.
Selain itu, ia juga berperan dalam penutupan atau penyembuhan luka pada tubuh, dan memberikan perlindungan bagi tubuh untuk menangkal infeksi. Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri sendi.

2. Vitamin Tidak Larut Air
a. Vitamin A
Vitamin A atau dikenal dengan nama retinol merupakan vitamin pembentuk pigmen mata di retina. Oleh karena itu, vitamin ini berhubungan dengan penglihatan. Selain itu, vitamin A juga berperan dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin A memiliki sifat mudah rusak akibat terpapar panas, dan udara.
Vitamin A banyak terkandung di dalam susu, ikan , sayur-sayuran dan juga buah-buahan. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan katarak, rabun senja, ISPA (infeksi saluran oernapasan atas), dan penurunan daya tahan tubuh.

b. Vitamin D
Vitamin D berperan dalam proses metabolisme kalsium dan mineralisasi tulang. Oleh kaena itu, vitamin D banyak behubungan dengan pembentukan tulang. Vitamin D diproduksi oleh sel kulit saat terkena cahaya matahai. Bila terjadi kekurangan vitamin D, maka dpaat menyebabkan kaki menjadi bentuk O atau X, gigi menjadi cepat rusak, dan kejang otot. Lalu, penyakit osteomalasia (tidak ada kalsium dan fosfor pada tulang) juga disebabkan oleh kekurangan vitamin ini. Selain itu, penyakit osteoporosis pada lansia juga disebabkan Karena kekurangan vitamin D. vitamin D banyak terkandung di dalam ikan, telur, susu, dan keju.

c. Vitamin E
Vitamin E atau tokoferol dapat berperan sebagai antioksidan alami bagi tubuh yang dapat menjaga kesehatan kulit, mata, sel darah merah, hati, dan paru-paru. Vitamin E terkandung di dalam ikan, ayam, kuning telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan kemandulan, dan gangguan saraf serta otot tubuh.

d. Vitamin K
Vitamin K  atau filokuinon beperan di dalam pembentukan sistem peredarah darah dan penutupan luka. Oleh karena itu, jika terjadi kekurangan vitamin ini, maka akan menyebabkan perdarahan tubuh dan kesulitan dalam penutupan luka. Vitamin K banyak terkandung di dalam susu, kuning telurm dan sayuran segar.

e. Vitamin H
Vitamin H sangat berhubungan erat dengan vitamin B lainnya, sehingga vitamin ini juga dapat ditemukan terkandung di dalam makanan yang juga mengandung vitamin B, seperti hati, ginjal, kuning telur, susu, ragi, kacang polong, sayuran, dan dapat diproduksi juga oleh bakteri usus.

f. Kolin
Kolin banyak terdapat di dalam hati dan beras. Seseorang yang mengalami kekurangan pada jumlah kolin dalam tubuh, akan mengakibatkan gangguan pada kulit, ginjal, dan dapat menimbulkan timbunan lemak di sekitar hati.

Previous
Next Post »
0 Komentar