Asuransi : Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Manfaat


A. PENGERTIAN ASURANSI
Istilah “asuransi” berasal dari sejumlah bahasa. Dalam Bahasa Belanda terdapat kata assuranite yang terdiri dari kata assuradeur yang bermakna penanggung dan geassureeede yang bermakna  tertanggung. Dalam Bahasa Perancis juga terdapat assurance yang bermakna menanggung sesuatu yang terjadi. Sementara itu, dalam Bahasa Latin terdapat kata assecurare yang berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi.
Pengertian, Fungsi dan Tujuan Asuransi
ASURANSI
Menurut Undang-undang No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, asuransi atau pertanggungan merupakan perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Beberapa ahli juga mengemukakan pengertian-pengertian asuransi. Di antara pengertian-pengertian tersebut adalah sebagai berikut.
1. Menurut Wirjono Prodjodikoro
Asuransi merupakan suatu perjanjian dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin, untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin, karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas.

2. Menurut Abbas Salim
Asuransi merupakan suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil yang sudah pasti sebagai pengganti kerugian-kerugian besar yang belum pasti. Bisa disimpulkan bahwa, orang bersedia membayar kerugian yang sedikit untuk masa sekarang, agar biasa menghadapi kerugian-kerugian besar yang mungkin terjadi pada waktu mendatang. 

3. Menurut Mehr dan Cammack
Asuransi merupakan suatu alat untuk mengurangi risiko keuangan, dengan cara pengumpulan unit-unit exposure (sumber-sumber risiko) dengan jumlah yang memadai, untuk membuat agar kerugian individu dapat diperkirakan. Kerugian yang bisa diramalkan tersebut dipikul merata oleh mereka yang bergabung

4. Menurut M. Nur Rianto
Asuransi merupakan sebuah mekanisme perlindungan terhadap pihak tertanggung apabila mengalami risiko di masa yang akan datang dimana pihak tertanggung akan membayar premi untuk mendapatkan ganti rugi dari pihak penanggung. 

5. Menurut Julius R. Latumaerissa
Asuransi merupakan suatu perjanjian dimana terdapat pihak tertanggung yang membayar premi kepada pihak penanggung guna mendapatkan penggantian karena suatu keinginan, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang telah diharapkan yang kemungkinannnya tidak pasti akan terjadi di masa yang akan datang. 

B. PRINSIP ASURANSI
1. Prinsip Kepentingan yang Dapat Diasuransi (Insurable Interest)
Prinsip kepentingan yang bisa diasuransikan atau dipertanggungkan ini terdapat pada Pasal 250 KUHD yang pada intinya menetapkan bahwa agar suatu perjanjian dapat dilaksanakan, maka objek yang asuransikan haruslah merupakan suatu kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest), yaitu kepentingan yang dapat dinilai dengan uang. Dengan ketentuan tersebut,  seseorang boleh mengasuransikan barang-barang apabila yang bersangkutan mempunyai kepentingan atas barang yang dipertanggungkan.

2. Prinsip Keterbukaaan (Utmost Good Faith)
Prinsip keterbukaan (utmost good faith) ini terdapat pada Pasal 251 KUHD yang pada menyatakan bahwa penutupan asuransi baru sah apabila penutupannya didasari itikad baik.

3. Prinsip Indemnitas (Indemnity)
Prinsip Indemnitas terdapat pada Pasal 252 dan Pasal 253 KUHD. Menurut prinsip indemnitas, yang merupakan dasar penggantian kerugian dari penanggung kepada tertanggung adalah sebesar kerugian yang sesungguhnya diderita oleh tertanggung adalah sebesar kerugian yang sesungguhnya diderita oleh tertanggung dalam arti tidak dibenarkan mencari keuntungan dari ganti rugi asuransi. Dengan ketentuan ini, pokok dari prinsip idemnitas adalah seimbang, yaitu seimbang antara kerugian yang betul-betul diderita oleh tertanggung dengan jumlah ganti kerugiannya. Berdasarkan hal tersebut, prinsip ganti kerugian hanya berlaku bagi asuransi yang kepentingannya dapat dinilai dengan uang, yaitu asuransi kerugian.
Dalam KUHD, diperbolehkan terjadinya asuransi berganda, sepanjang asuransi dilakukan dengan itikad yang baik. Namun, tentang itikad baik ini tidak dijelaskan lebih lanjut dalam KUHD.

4. Prinsip Subrogasi (Subrogation)
Subrogasi merupakan penggantian kedudukan tertanggung oleh penanggung yang telah membayar ganti kerugian, dalam melaksanakan hak-hak tertanggung kepada pihak ketiga yang mungkin menyebabkan terjadinya kerugian. Prinsip subrogasi ini terdapat pada Pasal 284 KUHD yang pada intinya menegaskan bahwa apabila tertanggung sudah mendapatkan penggantian atas dasar prinsip lain, walaupun jelas ada pihak lain yang bertanggung jawab pula atas kerugian yang dideritanya. Penggantian dari pihak lain ini harus diserahkan kepada penanggung yang memberikan ganti rugi yang dimaksud. Namun, ada kemungkinan terjadi kerugian yang diderita oleh tertanggung tidak diganti sepenuhnya oleh penanggung.

5. Prinsip Sebab Akibat (Proximate Cause)
Ditutupnya perjanjian asuransi menimbulkan kewajiban kepada penanggung untuk memberikan ganti kerugian disebabkan tertanggung menderita kerugian. Oleh karena itu, harus dapat ditentukan apakah peristiwa yang menjadi penyebab kerugian berada dalam tanggungan penanggung. Maka, harus ditelaah kaitan dengan peristiwa tersebut dengan kerugian yang terjadi. Jika kerugian tersebut disebabkan oleh peristiwa yang tidak termasuk penyebab kerugian yang diakui dalam asuransi, maka penanggung dibebaskan dari kewajibannya.

6. Prinsip Gotong Royong (Contribution)
Prinsip ini bermakna penyelesaian masalah yang timbul dilakukan dengan cara bersama-sama. Dapat disimpulkan pula penanggung berhak mengajak penanggung-penanggung yang lain yang mempunyai kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada seorang tertanggung meskipun jumlah tanggungan masing-masing belum tentu sama besar.

C. TUJUAN ASURANSI
Asuransi bertujuan untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi dalam masyarakat dengan cara mempertanggungkannya kepada perusahaan asuransi. Risiko yang ada akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.
.
D. FUNGSI ASURANSI
Asuransi memiliki sejumlah fungsi tertentu. Menurut Ade Arthesa dan Edia Handiman (2006:237), fungsi-fungsi asuransi diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Memberikan rasa aman dan perlindungan
Pihak tertanggung akan merasa aman dengan adanya perlindungan yang diberikan oleh pihak asuransi. Risiko keuangan akibat kehilangan, kebakaran, kerusakan, kematian, dan risiko lainnya dapat ditutupi dengan penggantian sejumlah dana tertentu sesuai dengan nilai pertanggungan. 

2. Fungsi tabungan dan sumber pendapatan lain
Beberapa jenis asuransi berfungsi pula sebagai tabungan atau sumber pendapatan. Selain memberikan perlindungan, penanggungan juga memberikan manfaat berupa bunga dari hasil perhitungan total premi yang dibayarkan. 

3. Alat penyebaran risiko
Risiko yang sejatinya diterima sepenuhnya oleh tertanggung dapat disebarkan kepada penanggung sehingga tertanggung merasa aman dalam menjalankan aktivitasnya. Konsekuensi dari penyebaran risiko ini yakni kewajiban premi yang harus dibayar oleh pihak tertanggung.

4. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil
Nilai pertanggungan dan besarnya premi ditetapkan berdasarkan aspek keadilan bagi kedua pihak. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang merasa diuntungkan atau dirugikan atas kesepakatan yang dibuat. Perhitungan besarnya premi dan nilai pertanggungan hanya dapat dilakukan oleh ahli aktuaria (seorang ahli yang dapat mengaplikasikan ilmu keuangan dan teori statistik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bisnis aktual) yang memiliki kredibilitas baik dan dilakukan dengan perhitungan yang tepat.

E. MANFAAT ASURANSI
Asuransi dapat memberikan sejumlah manfaat kepada semua pihak, baik penanggung,tertanggung, maupun pemerintah. Menurut Martono(2002:145-146), manfaat-manfaat asuransi diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Rasa aman dan perlindungan
Sebagai individu maupun pengusaha, adanya asuransi dapat memberikan rasa aman atas kemungkinan terjadinya kerugian.

2. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil
Nilai pertanggungan dan besarnya premi diperhitungkan secara akurat dengan mempertimbangkan sejumlah faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, semakin besar nilai pertanggungan, semakin besar pula premi yang dibayar oleh tertanggung. 
Polis Asuransi dapat dijadikan jaminan memperoleh kredit dan dapat dijadikan sebagai kelengkapan memperoleh kredit
Jumlah kredit yang dapat diberikan oleh perusahaan asuransi kepada tertanggung sesuai dengan nilai pertanggungan. Untuk memperoleh kredit dari bank, diperlukan adanya agunan (berupa rumah, gedung) yang mana agunan tersebut harus diasuransikan.

3. Sebagai tabungan dan sumber pendapatan
Premi yang dibayar oleh tertanggung memiliki unsur tabungan yang mendapatkan pendapatan berupa bunga dan bonus sebagai perjanjian.

D. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS ASURANSI
1. Menurut Sifat Pelaksanaannya
Menurut sifat pelaksanaannya, asuransi terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Asuransi sukarela
Pada prinsipnya, pertanggungan dilakukan secara sukarela, dan semata-mata dilakukan dengan kesadaran seseorang akan kemungkinan terjadinya risiko kerugian dari sesuatu yang dipertanggungkan.

b. Asuransi wajib
Asuransi yang bersifat wajib dilakukan oleh pihak-pihak terkait yang pelakasanaannya dilakukan dengan ketentuan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah.

2. Menurut Jenis Usaha Perasuransiannya
Berdasarkan UU No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Peransuransian, jenis-jenis usaha perasuransian terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
  • Usaha asuransi kerugian yang memberikan jasa dalam risiko dari kerugian, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul akibat peristiwa yang tidak pasti.
  • Usaha asuransi yang memberikan jasa atas penanggulangan risiko yang dihubungkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan. 
  • Usaha reasuransi yang memberikan jasa dalam pertanggungan ulang atas risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian atau perusahaan asuransi jiwa.


3. Dilihat dari Fungsinya
Jika dilihat dari fungsinya, jenis-jenis asuransi terbagi ke dalam beberapa jenis berikut.
a. Asuransi kerugian
Di dalam UU No. 2 Tahun 1992, menjalankan usaha memberikan jasa menanggulangi risiko dari kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga dari suatu peristiwa yang tidak pasti, seperti
  • Asuransi kebakaran
  • Asuransi kepangkatan

b. Asuransi jiwa
Asuransi jiwa merupakan perusahaan yang berhubungan dengan penanggulangan jiwa atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungjawabkan, seperti
  • Asuransi berjangka
  • Asuransi tabungan
  • Asuransi seumur hidup

c. Reasuransi
Reasuransi merupakan perusahaan yang memberikan jasa asuransi dalam pertanggung ulang atas risiko oleh perusahaan asuransi kerugian.

F. UNSUR – UNSUR ASURANSI
1. Insured (Pihak Tertanggung)
Pihak tertanggung merupakan seseorang atau badan atau organisasi yang berjanji untuk membayar sejumlah uang (disebut dengan premi) kepada pihak  penanggung. Pembayaran bisa dilakukan dengan berturut-turut (diangsur) atau tunai. Dengan membayar premi, pihak tertanggung akan mendapatkan hak untuk melakukan klaim asuransi. Bersamaan dengan hak tersebut, melekat pula kewajiban untuk tetap membayar premi sesuai dengan kesepakatan.

2. Insure (Pihak Penanggung)
Pihak penanggung merupakan badan, lembaga, atau organisasi tertentu yang dalam skema perjanjian akan membayarkan sejumlah uang (bisa disebut sebagai uang santunan atau penggantian) baik secara berangsur-angsur ataupun secara tunai kepada pihak pertama apabila terjadi sesuatu hal yang terjadi sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Hak insure adalah memperoleh pembayaran premi. Kewajiban insure adalah  membayar sejumlah uang sesuai klaim yang terdapat pada skema perjanjian.

3. Objek Asuransi
Objek asuransi merupakan benda, beserta hak dan/atau kepentingan yang melekat pada benda tersebut, hal yang terkait dengan nyawa, bagian tubuh (termasuk kesehatan) serta lainnya yang termasuk dalam objek asuransi sesuai dengan yang dijanjikan pihak insure (uang pensiun, pendapatan bulanan dan lain-lain). Pihak insured membayar uang premi dengan tujuan bebas dari resiko kerusakan, kehilangan, ataupun kerugian lainnya.

4. Peristiwa Asuransi
Peristiwa asuransi merupakan suatu peristiwa tidak pasti (evenement) yang mengancam objek asuransi, yang di dalamnya terjadi persetujuan antara pihak insure dan insured sehingga menjadi suatu perbuatan hukum berupa kesepakatan antara kedua belah pihak.

G. RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN ASURANSI
Risiko merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak menguntungkan. Contohnya adalah kecelakaan, musibah, bencana, dan lain sebagainya. Risiko terbagi kepada beberapa jenis, berikut penjelasannya.
1. Risiko murni
Risiko murni merupakan risiko yang apabila benar-benar terjadi, akan memberikan kerugian dan apabila tidak terjadi, tidak akan menimbulkan kerugian dan tidak juga memberikan keuntungan. 

2. Risiko spekulatif
Risiko spekulatif merupakan risiko yang berkaitan dengan terjadinya dua kemungkinan, yaitu kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dam kemungkinan untuk mendapat kerugian.


3. Risiko individu
Risiko individu merupakan risiko yang kemungkinan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Risiko individu ini terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Risiko pribadi (personal risk)
Risiko pribadi merupakan risiko yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memperoleh manfaat ekonomi. Risiko ini berfungsi untuk menanggung dirinya sendiri atau orang lain yang ia asuransikan.
b. Risiko harta (property risk)
Risiko harta merupakan risiko yang ditanggungkan atas harta yang dimilikinya rusak, hilang atau dicuri. Dengan kerusakan atau kehilangan itu, pemilik akan kehilangan kesempatan ekonomi yang diperoleh dari harta yang dimilikinya.
c. Risiko tanggung gugat (liability risk)
Risiko tanggung gugat merupakan risiko yang mungkin kita alami atau derita sebagai tanggung jawab akibat kerugian  pihak lain. Contohnya, pemberian asuransi oleh mandor bangunan untuk para pekerjanya. Risiko yang dihadapi perlu ditangani dengan baik demi mempertimbangkan kehidupan perekonomian di masa mendatang.

Sementara itu, ketidakpastian merupakan konsep risiko yang sangat inti. Jika hal ini diketahui lebih cepat sebelum terjadi, maka risiko tidak akan menjadi risiko. Akan tetapi, hal-hal yang tersebut tidak diketahui terlebih dahulu. Oleh karena itu, kita senantiasa berada dalam ketidakpastian atau lingkungan yang berisiko.

Secara umum, terdapat empat komponen risiko yang kesemuanya berada dalam ketidakpastian atau uncertainty, yaitu sebagai berikut.
  • Komponen sumber daya
  • Komponen peristiwa
  • Komponen akibat

Komponen hazards atau faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadi/tidaknya peristiwa yang mempengaruhi tinggi/rendahnya akibat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Asuransi : Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Manfaat"

Post a Comment